Rabu, 29 Mei 2013

HARGAILAH YANG MASIH ADA

Banyak hal 
yang akan terasa
 sangat BERHARGA ketika sudah TIDAK ADA
 maka HARGAILAH
 apa-apa 
yang MASIH ADA 
sebelum ia PERGI /TIADA
kematian Kita?

DIAM

-000-
Diam itu bukan berarti kosong,
Diam itu bukan berarti hampa,
Diam itu bukan berarti tidak mengerti,
Diam itu bukan berarti tak peduli,
Diam itu penutup segala kebodohan,
Diam itu perhiasan tanpa berhias,
Diam itu kehebatan tanpa kerajaan,
Diam itu benteng tanpa pagar,
Diam itu penutup segala aib,
Diam itu ibadah yang tanpa bersusah payah,
Diam itu perhiasan bibir tanpa berhias dengan pemerah,
Diam itu kekayaan tanpa meminta kepada orang,
Diam itu istirahat bagi kedua malaikat pencatat amal.

Tapi …
Jangan diam saat orang bekerja
Jangan diam saat kejujuran dikoyak
Jangan diam saat keburukan ada didepanmu
Jangan diam saat hatimu pilu, berdzikirlah supaya hatimu tenang
Jangan diam saat harus bicara
Jangan diam saat ditanya, meski jawabnya ‘tidak tahu’
Jangan diam saat imam selesai membaca Al-Fatihah.. bacalah Amin..
Jangan diam saat Engkau berdoa

Diam yang baik itu…
Diam sedang menyerap ilmu,
Diam ingin mencari makna,
Diam sedang merajut asa,
Diam sedang memperhatikan,
Diam karena ilmu nya orang tua,
Diam karena mendengarkan,
Diam sedang menahan ghibah dan dusta,
Diam sedang menahan amarah,
Diam sedang berpikir,
Diam sedang berdoa dalam hati,
Diam sedang mencari solusi.
Diam sedang menyembunyikan keikhlasan,
Itulah kenapa… ???
karena DIAM itu EMAS

Selasa, 28 Mei 2013

MENJADIKAN ANAK SUKA MEMBACA


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Anak saya tujuh. Sebelum anak pertama lahir, salah satu obsesi kami memang ingin menjadikan anak senang membaca. Untuk itu, saya berusaha mempelajari berbagai teori tentang mengajarkan membaca kepada anaksejak usia paling dini. Ada berbagai macam literatur, tetapi intinya anak-anak memerlukan buku-buku yang secara khusus dirancang untuk anak, berbahan tebal, warnanya atraktif, sedikit tulisan banyak gambar (wordless picture book) dan yang jelas: harga buku semacam itusangat mahal untuk ukuran kami yang baru menikah. Apalagi sama-sama masihkuliah.

Tapi demi sebuah cita-cita, kami tetap berusaha membeli buku-buku yang khusus dirancang untuk anak tersebut. Mahal memang, tapi cita-cita memang memerlukan pengorbanan. Kami bacakan buku kepada anak pertama saya, Fathimatuz Zahra, semenjak kira-kira usia 6 minggu. Bisa apa anak di usiaitu? Yang paling pokok bukan bisa atau tidak. Yang paling penting ketika itu adalah membentuk reading pattern (pola membaca) sehingga anak “memiliki kebutuhan membaca” pada waktu-waktu tersebut. Kami membacakan buku untukFathimah sehabis memandikannya, serta saat anak menetek mau tidur. Ini kemudian memang menjadi pola di usia-usia berikutnya. Ini pula yang berperan penting menjadikan anak suka membaca sehingga usia 4 tahun sudah lancar membaca. Tetapi mampu membaca di usia 4 tahun sama sekali bukan target. Tidak penting usia berapa membaca. Yang paling penting adalah ada tidaknya, kuat tidaknya, sikap positif terhadap membaca yang akan berperan penting membentuk budaya membaca.

Saya justru menghindari mengajari anak agar terampil membaca sebelum usia 7 tahun. Dari berbagai riset dan pengalaman berbagai negara maju, pembelajaran membaca secara formal sebaiknya dimulai usia 7 tahun. Jika anak lancar membaca sebelum masuk sekolah dasar, itu semata karena anak sangat tertarik membaca sehingga akhirnya terdorong untuk belajar membaca.

Lebih baik terampil membaca belakangan, tetapi minat baca sangat besar dan rasa ingin tahu terhadap ilmu begitu tinggi daripada lancar membaca saat masih TK, tapi baru di sekolah menengah saja gairah mereka membaca sudah tidak ada. Ini bisa terjadi manakala kita hanya sibuk mengajari membaca. Bukan membuatnya tertarik.

Saya tidak berpanjang-panjang dengan masalah ini. Kembali pada pengalaman mengasuh anak agar suka membaca. Jika pada anak pertama dan kedua kami memang berusaha keras agar dapat membelikan buku-buku yang khusus dirancang untuk anak, belakangan kami lebih menekankan pada bagaimana anak akrab dengan suasana membaca. Sehari-hari anak melihat bahwa membaca itu asyik,membaca itu membuka wawasan dan menambah pengetahuan, membaca itu jalan untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Medianya tak harus buku yang khusus dirancang untuk anak. Kami menceritakan apa saja yang kami baca, berdiskusi atau merisaukan apa yang dibahas di surat kabar maupun buku, dan kadang melibatkan anak dalam pembicaraan penting yang ada di buku. Kami sering menjadikan buku sebagai acuan; sumber rujukan. Disamping itu, anak memang akrab dengan buku. Dimana-mana ada buku; ruang tamu, kamar pribadi, ruang tengah, mobil dan tas untuk bepergian ada buku. Ini memberi “pesan” kepada anak bahwa buku itu penting.

Pada anak-anak berikutnya, kami membacakan tidak secara khusus buku untuk anak seusianya. Dalam buku Membuat Anak Gila Membaca, memang kami sempat membahas bahwa kita perlu membacakan buku benar-benar sesuai usianya. Tapi dalam perkembangannya, kami mendapati tidak demikian. Menjadikan anak suka membaca tidak harus dengan mengeluarkan uang besar untuk membeli buku-buku eksklusif. Yang paling penting adalah kesediaan kita mendampingi anak membaca. Itu sebabnya, buku ini untuk sementara dihentikan peredarannya. InsyaAllah setelah revisi akan kembali terbit di Pro-U Media, Yogyakarta.

Ada memang sejumlah buku yang “khusus anak usia balita”. Ini sisa kakaknya, meskipun sudah banyak yang sobek. Ada juga hadiah. Tapi yang paling penting adalah mengakrabkan dan menjadikan anak merasa bahwa buku sangat berharga. Ini akan lebih mudah lagi manakala di rumah tidak ada TV.

Jika untuk menjadikan anak suka membaca tak harus berbiaya tinggi, mengapa kita harus grogi sebelum memulai? Koran bekas, kertas yang sudah tak terpakai dan buku apa pun yang bagus isinya meskipun seakan bukan untuk anak, semuanya merupakan media mengenalkan membaca kepada anak sekaligus menjadikan mereka suka baca.

Murah bukan?

SUMBER:
MEMBACA
https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/menjadikan-anak-suka-membaca/506124369436696

Senin, 27 Mei 2013

Belajar dari Sandal dan Peci

  Alkisah
Suatu malam, saat semua penghuni rumah sudah terlelap. Sandal jepit yang berada di luar rumah menggigil kedinginan.Tak pernah sekalipun ia diajak masuk oleh si empunya. Dengan tubuh kotor penuh debu, kadang lumpur, ia selalu dibiarkan tergeletak di depan. Rupanya, keluhan itu sempat di dengar oleh Peci yang tergantung di paku di dinding ruang tamu. Melihat rekannya yang berada diluar, Peci hanya tersenyum penuh kemenangan dan pura-pura tertidur tak mempedulikan Sandal Jepit yang mulaimenangis.
Dalam batinnya, Sandal berkata, sungguh enak menjadi Peci.Ia selalu ditempatkan diatas, dipakai atau tidak, tak pernah ia berada dibawah. Lain halnya dengan dirinya, dipakai terinjak-injak, tak dipakai tetap tersingkir di pojokkan, di tanah atau di lantai dingin. Setiap kali hendak digunakan, tuan pemilik selalu membersihkan Peci, tak satu pun debudibiarkan hinggap, dan sepulang diajak pergi, kembali dibersihkan dan diletakkan kembali ke tempat yang lebih terhormat, jika tidak diatas lemari, di dalam lemari, diatas buffet, paling rendah tergantung di dinding. Berbeda dengan nasib Sandal Jepit, dipakai tak pernah di bersihkan, sepulangny asemakin tak dipedulikan sekoto rapapun, mulai dari debu, sampai kotoran dengan aroma bau yang ta ksedap.
Kalaupun diajak pergi, Sandal tak pernah ketempat yang bersih, kepasar, kekebun, lapangan, atau ke toilet, Jelas saja, tuan pemilik akan lebih memilih sepatu atau sandal kulit untuk ke Mall, ke pesta, atau ke tempat-tempat yang memang bukan tempatnya Sandal berada disana. Tapi, Sandal juga dipakai jika tuan pemilikh endak ke Masjid. Entah ini penghormatan atausebaliknya buat Sandal Jepit karena jika nanti di Masjid iaharus berpindah kaki dengan orang lain alias hilang, toh tuan pemilik hanya berpikir, ”Untung cuma Sandal Jepit”. Sedangkan Peci, selalu dipakai ketempat kondangan, bahkan para pemimpin negeri, pejabat-pejabat penting Negara ini waji bmenggunakan Peci saat pelantikan dan acara-acara resmi, acara kehormatan kenegaraan.
Peci hamper tak pernah dipinjamkan kepada tuan yang lain, karena biasanya masing-masing sudah memiliki. Tapi Sandal, sekalipun ada beberapa, tak pernah ia diberikan kehormatan untuk mengabdi pada satu tuannya saja. Ia bisa dipakai tuan istri, tua nanak, atau juga pembantu. Tidak jarang, ia dipinjam kan juga ketetangga, atau teman, tuan dan anak. Kalau pun using dan berubah warna, Peci biasanya tak pernah dibuang. Disimpan dalam kardus di gudang dengan rapih, atau paling mungkin diberikan kepada anak-anak yatim atau siapa saja yang membutuhkannya. Intinya, masihbernila ipaska guna.Sandal Jepit?Jelek sedikit diganti, apalagi kalau sudahputus talinya, tidak adatempat yang paling pas kecuali tong sampah.Terkadang, ia juga harus merasakan kepedihan jika tubuhnya harus dipotong-potong untuk pengganti rem blong, atau dibuat ban mobil-mobilan mainan anak-anak.
Tapi Sandal tetap menyadari status dan perannya sebagai Sandal yang akan selalu terinjak-injak, kotor, dan tak pernah diatas. Sandal tak pernah iri dengan peran peci.Terlebih saat tuan pemilik berhadapan dengan Tuhannya, dan ditanya; “Mana dari dua barang milikmu yang paling seringkaugunakan, paling bermanfaat, Sandal Jepit atau Peci, yang akan kau bawa bersamamu kesurga?” Dengan mantap tuan pemilik menyebut Sandal Jepit jauh lebih memberikan manfaat baginya.
       Apabila suatu hari kita membeli sendal seharga satu juta, dimanakah letak sandal kita pakai dimanakah sedal tersebut kita pakai? Apakah karena yang harganya kelewat mahal ( bagi kebanyakan orang )  sehingga sandal itu perharus kita taruh diatas kepala( disunggi;jawa).Atau agar tidak pudar warnanya dan selalu tampak baru sehingga kita perlu membungkus sendal tersebut dengan kantong plastik? Jawabannya tentu tidak, karena sandal itusendiri sudah “nerimo” dengan takdir fungsionalnya.
 Apakah pernah kita melihat seorang memakai sandal namun tidak menyentuh tanah? Seperti itu saat ini mungkin hanya terjadi di dunia khayal, negeri antah berantah atau film. Betapapun mahal harganyasebuah sandal ia akan tetap berada di bawah, dan langsung bersentuhan dengan tanah.
Sebab itulah “tempat yang tepat” baginya. Bukan karena harganya yang mahal kemudian berubah maqam menjadi di letakan yang lebih tinggi. Justru peletakan tersebutmenjadikan nilai guna sandal semakin berkurang, atau bahkan nihil.
Bagaimana kalau bendnya kita rubah menjadi peci.  Kita beli peci dengan harga yang tidak lebih dari sepuluh ribu misalnya. Atau dalam kalimat lain kita peroleh secara gratisan. Lalu bagimana kita meletakan peci ketika kita memakainya?
Apakah karena gratis, tidak bayar kita cukup masukan kedalam saku celana, sama dengan seperti kasus sendal, jawabnya “tentu tidak”,peci itu berada diatas karena fungsinya. Bukan karena harga jual atauatau belinya.
Dari sendal kita belajar bahwa hakikat kemuliaan bukanlah karena tingginya posisi. Kemuliaan itu hadir ketika kita menjalankantugas sesuai dengan ketentuan yang ada secara profesional dan total.
Berada dibawah tidak menyenyebabkan kita merasa hina. Sebab posisi yang sejati sejati (khususnya di mata Allah)yang membedakan hanyalah derajat ketaqwaannya.
Dari narasi kita dapat belajar bahwa kehidupan tidakbisa di pandang sebelahmata, tetapi harus lengkap dan komprehensif.
Dari peci kita belajar bahwa posisi tinggi  tidak selamanya sejalan dengan  subtansi.
Ahirnya semua kembali pada pribadi masing- masing, bagaimana menyikapi dan menyadari akan fungsi dan perannya masing-masing
Saudaraku, tak penting apa status, peran dan fungsi Anda di duniaini, karena Allah, Rasul dan manusia beriman tak melihat Anda dari pakaian yang dikenakan, jabatan yang tersemat, dan kehormatan yang disandang, tapi seberapa bermanfaatnya Anda bagi orang lain dengan status dan peran Anda tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnaasanfa’uhumlinnaas", "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Kahlil Gibran dalam bukunya yang berjudul Taman Sang Nabi juga mengatakan bahwa, di pepohonan, buah tak pernah berkata kepada akar ; " jadilah seperti aku, yang masak dan ranum ini, dan memberikan kelimpahan hasilnya." Sebab bagi buah, memberi adalah kebutuhannya, sedang bagi sang akar, menerima adalah kebutuhannya.
          Jika demikian, bukan hal penting untuk mempertanyakan status dan jabatan penting apa yang akan kita sandang saat ini dan nanti, tetapi yang terpenting adalah mempertanyakan, seberapa bias kita berbuat baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

"Uang Logam"

recehan (XXX)
Suatu ketika, ada seorang anak yang menemukan sebuah uang logam. Dia sangat senang sekali dengan apa yang ditemukannya. Dia mendapatkan uang, tanpa harus mengeluarkan tenaga. Tanpa bersusah payah, dia dapat membeli apa saja dengan uang yang ditemukannya itu. Ah, lalu dia berpikir untuk melakukan pekerjaan iini sampai sore nanti. Dia lalu menghabiskan hari itu dengan kepala menunduk, mata terbuka lebar, dan meneliti setiap pojok jalan dengan seksama.
Ya, anak itu melakukan kegiatan itu sampai akhir masa kanak-kanaknya. Dia memang menemukan banyak sekali uang dengan cara itu. Ada ratusan uang receh, puluhan uang kertas, beberapa perhiasan, sebuah liontin, dan banyak benda berharga lainnya yang dapat ditukarkan dengan uang dan mainan. Anak itu senang sekali dengan pekerjaan ini.

Memang, dia mendapatkan banyak uang dengan cara ini. Namun, agaknya, dia melupakan banyak hal. Dia, telah kehilangan ratusan kehangatan pagi dan indahnya embun di dedaunan. Dia juga melewatkan ratusan pelangi yang kerap hadir di atas awan, sebab, kepalanya selalu tertunduk ke bawah. Dia juga, tak sempat untuk menyaksikan ribuan fajar dan ribuan senja.

Dia tak pernah menyaksikan burung-burung yang terbang di angkasa, dan bercericit di atas pohon-pohon. Dia melewatkan banyak sekali layang-layang yang berkejaran di langit, dan meliuk-liukan badannya seperti camar yang membentuk susunan-susunan formasi yang indah. Dia tak sempat merasakan harumnya bunga-bunga di taman, dan tawa riang teman-temanya yang sedang bermain.

Dia tak pernah menemukan senyum hangat setiap orang yang berpapasan dengannya. Dia melewatkan tawa renyah dari kakek yang bertongkat dan selalu mengelus setiap anak yang ditemuinya. Dia, tak pernah merasakan itu semua. Burung yang beterbangan, matahari yang bersinar, dan senyuman itu, bukanlah bagian dari ingatan masa kecilnnya.

***

Kerja keras?

Sahabat, begitulah hidup. Kita bisa memilih hidup kita dengan kepala tertunduk, dan pikiran dipenuhi dengan nafsu kekayaan, dan enggan berurusan dengan orang lain. Kita juga bisa memilih hidup, dengan penuh ketakutan, takut kehilangan setiap uang logam, takut akan kritik dan saran, takit pada setiap hal baru yang hadir di depan mata. Kita bisa memilih untuk terpaku pada satu hal, hanya memikirkan diri sendiri.
Ya, kita memang bisa memilih itu semua. Namun, teman, kita juga bisa memilih untuk hidup dengan selalu memandang ke depan, dan pantang menyerah. Kita juga bisa memilih untuk merasakan semua nikmat-Nya, dan menjadi bagian dari kehangatan persahabatan dan senyuman. Kita, juga bisa memilih untuk hidup dan berusaha untuk merasakan semua tawa, semua kehahuram bunga, dan keindahan fajar dan matahari senja. Ya, kita memang bisa memilih hidup kita. Tentukanlah dengan matang.

Hidup tanpa Tujuan= Layang- layang putus

Hidup tanpa mempunyai tujuan sama seperti layang-layang putus. Miliki tujuan dan percayalah Anda dapat mencapainya
Layang-Layang putus

Minggu, 26 Mei 2013

senyuman adalah sedeqah

Aisha.
Sahabatku...sikap yang baik,
wajah yang menyejukkan/senyum dan tutur kata yang baik adalah salah satu bentuk sedekah 
Mari latih diri untuk melakukan yang terbaik,
Niatkan karena ta'at kepada Allah Subhaanahu wata'ala 
mari contoh Rasululloh Shoallohu 'Alaihi Wasallam....